بسم الله الرحمن الرحيم
Mengenal, Mengelola, dan Menaklukkan Gelegar Hawa Nafsu dalam Jiwa
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf [12]: 53)
“Bukanlah orang yang kuat adalah orang yang keras, tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan nafsunya ketika marah.” (Hadits)
Tahukah Anda bahwa ‘kata kunci’ hancur-jayanya kehidupan ini sangat hanya ‘bergantung’ pada kondisi hawa nafsu manusia. Jika hawa nafsu manusia tergolong baik, tentu mereka dengan sepenuh hati akan menjalankan tugas sebagai khalifah fil ardh, yaitu memakmurkan bumi. Memakmurkan bumi lawan katanya adalah berbuat kerusakan atau kehancuran, yang tak lain disebabkan oleh ‘kolaborasi’ antara hawa nafsu yang buruk dengan setan (iblis) laknatullah!
Kisah Akal dan Nafsu
Allah Swt. menciptakan akal dan nafsu kemudian memerintahkan keduanya untuk menghadap. Akal ditanya oleh Allah Swt. :"من أناومن أنت ؟" (Siapa aku dan siapa kamu). Akal menjawab : "ألله ربي". (Allah Tuhanku Yang Maha Gagah Perkasa sedangkan aku hanya ciptaan-Mu yang lemah dan tidak ada daya dan upaya melainkan dengan izin-Mu). Jawaban ini merupakan sikap tawadhu dari akal. Berbeda dengan nafsu ketika ditanya dengan pertanyaan yang sama oleh Allah, "من أناومن أنت ؟" Jawaban akal adalah : " أناأنا أنت أنت". (Aku adalah aku dan engkau adalah engkau). Jawaban ini merupakan sebuah sikap takabur (kesombongan) dan egoistis dari sang nafsu.
Mendengar jawaban dari nafsu seperti itu, maka Allah mengirimkannya kedalam dua lautan yaitu lautan lapar (بحرالجوع ) dan lautan dzikir (بحرالذكر) lamanya 100 tahun (dalam riwayat lain ada yang menyebutkan 1000 tahun).
Ketika dikeluarkan dari lautan lapar, nafsu masih menjawab dengan jawaban yang sama akhirnya Allah mengirimkannya kedalam lautan dzikir. Setelah itu barulah nafsu mengakui dan tunduk kepada Allah.
Manusia itu dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah milik Allah yaitu ruhnya. Apabila ruh sudah dipanggil oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya. Bagian kedua adalah milik manusia itu sendiri. Apabila ia berbuat baik, maka kebaikan itu akan kembali kepada dirinya. Sebaliknya, jika ia berbuat jahat maka kejahatan itu akan kembali kepada dirinya. Dan yang terakhir, manusia itu milik belatung. Badannya apabila ia sudah mati di dalam kubur, maka akan dimakan oleh belatung kecuali badan atau jasmaninya orang-orang yang selalu dzikir kepada Allah sehingga iman dan taqwanya menjadi pelindung dirinya.
"Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan."(QS 38:26)
Nafsu terbagi menjadi tiga
1.Nafsu muthmainnah, yakni ketika ruh mendominasi hawa nafsu, hawa nafsu cuma menjadi prajurit yang disuruh oleh naruni kita. Nafsu-nafsu dikelola dengan baik, orientasinya selalu dzikir, orientasinya Allah. Bahkan jika kita mendapat ujian dan musibah orieantasinya selalu Allah.
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” QS:29:45,
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):” Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” QS:3:191,
hasilnya adalah jiwa yang tenang.
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”QS: 13:28,
“ Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” QS: 89: 27-30
Mungkin bisa dicontohkan orang yang masa depannya belum jelas, keadaan ekonominya sedang menurun, atau kondisi kesehatannya yang kurang baik. Kesemuanya jika orieantasinya hanya Allah dan selalu dzikir, sudah pasti Allah akan memberikan yang terbaik untuk kesabaran kita. Dengan selalu berdzikir kepada Allah, manusia akan mendapat ketenangan hidup. Merasa tenang bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuknya atas ujian dan musibah maupun kebahagiaan yang menerpa hidup manusia. Ketenangan adalah hal yang paling dicari manusia. Tidak dapat dipungkiri, orang yang memakai narkoba pun berdalih mencari ketenangan tapi dengan cara yang salah. Oleh sebab itu, kuncinya cuma satu untuk memperoleh ketenangan: dzikrullah, mengingat Allah.
2.Nafsu lawwamah, yakni ketika ruh tarik menarik dengan hawa nafsu. Ketika ada kalanya ruh yang menang, kadang hawa nafsu yang menang. Orientasinya pada akal! Terkadang manusia berpikir, apakah hal ini hal itu masuk akal tidak? dan sebagainya.
“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar”. QS: 2:9
Seperti firman Allah dalam surat tersebut bahwa manusia menipu dirinya sendiri. Mereka sering melegitimasi sesuatu, menjustifikasi sesuatu yang salah menjadi benar karena kita masih tarik menarik dengan hawa nafsu. Ah, saya jadi malu. Tentunya hal ini sering saya lakukan. Jadi ingat ketika saya tidak menghabiskn makanan yang saya makan! saya berdalih “ mungkin mahluk Allah yang lain membutuhkan ini seperti bakteri pengurai, semut, kucing, dsb”. Atau lain lagi alasan kita ketika ada dauroh 3 hari 2 malem yang mengharuskan tidur hanya beberapa jam ditambah kegiatan yang cukup padat melelahkan. Ketika selesai dauroh, biasanya langsung tidur dirumah sepuasnya. Padahal tidak, sungguh seorang aktivis seharusnya tidak seperti itu. Yah, seperti itulah, manusia sering melegitimasi sesuatu yang salah tapi dengan argument yang cerdas dan mungkin dapat dibenarkan akal. Wallahua’lam. Hasilnya pun adalah jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri
“dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)”QS: 75:2 .
apa peningkatan kualitas diri kita kalau setiap detik, menit, jam, hari, minggu ita selalu menyesali diri? Bagaimana meningkatkan persentase tarik menarik antara ruh dan hawa nafsu tersebut? Tentunya ada setiap zona-zona yang tidak selalu menggunakan akal tapi gunakanlah hati nurani kita!
3. Nafsu Amarah, yakni hawa nafsu yang mendominasi sudah pasti orientasinya syahwat yang bersifat semu dan smentara. Hasilnya adalah jiwa yang selalu menyuruh pada kejahatan. Menjadi budak nafsu!
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). QS.3 : 14
Renungilah dimana posisi hawa nafsu kita! Ketenangan kita dalam Islam adalah harga yang sangat mahal. Jika raja-raja Persia dan romawi tahu bahwa ketenangan tersebut ada pada Islamnya seseorang tentunya mereka akan merebutnya dari tangan kita dengan harta dan jiwa mereka.
Wallahu'alam bishowab.
Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Benar.
Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Benar.

No comments:
Post a Comment