Saturday, August 2, 2025

Ikan Hias Sang Kyai

Ikan Hias Sang Kyai
Gambar Ilustrasi

Seorang santri sedang membersihkan aquarium kyainya. Ia memandang ikan arwana dengan takjub.

Tak sadar kyainya sudah berada di belakangnya. "Kamu tahu harga ikan itu?" Tanya sang kyai.
"Tidak tahu yai". Jawab si santri

"Coba tawarkan kepada tetangga sebelah!!" Perintah sang kyai

Ia memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetangga, kemudian kembali menghadap sang kyai.

"Ditawar berapa nak?" Tanya sang kyai. 
"50.000 rupiah kyai". Jawab si santri mantap..
"Coba tawarkan ke toko ikan hias!!" Perintah sang kyai lagi.

"Baiklah kyai". Jawab si santri. Kemudian ia beranjak ke toko ikan hias. 

"Berapa ia menawar ikan itu?" Tanya sang kyai. 
"800.000 rupiah kyai". Jawab si santri dengan gembira, ia mengira sang kyai akan melepas ikan itu..

"Sekarang coba tawarkan ke si Fulan, bawa ini sebagai bukti bahwa ikan itu sudah pernah ikut lomba". Perintah sang kyai lagi..

"Baik kyai". Jawab si santri. 
Kemudian ia pergi menemui si Fulan yang dikatakan gurunya. Setelah selesai, ia pulang menghadap sang guru.

"Berapa ia menawar ikannya?"
"50 juta rupiah kyai".

Ia terkejut sendiri menyaksikan harga satu ikan yang bisa berbeda-beda..

"Nak, aku sedang mengajarkan kepadamu bahwa kamu hanya akan dihargai dengan benar ketika kamu berada di lingkungan yang tepat".

"Oleh karena itu, jangan pernah kamu tinggal di tempat yang salah lalu marah karena tidak ada yang menghargaimu. Mereka yang mengetahui nilai kamu itulah yang akan selalu menghargaimu".

"Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita".

"Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita".

"Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita".

"Kita adalah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian terhadap kita".

"Kita adalah orang-orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri akan kita".

"Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing-masing, maka tak usah berlelah-lelah agar tampak baik di mata orang lain".

"Cukuplah dengan ridho Alloh bagi kita, sungguh mencari ridho manusia adalah tujuan yang takkan pernah tergapai".

"Sedangkan ridho Alloh, destinasi yang pasti sampai, maka tinggalkan segala upaya mencari keridhoan manusia, dan fokus saja pada ridho Alloh".

READ MORE - Ikan Hias Sang Kyai

Sunday, July 27, 2025

Tingkatan Nafsu Pada Manusia

Berikut merupakan deskripsi singkat tentang tingkatan nafsu pada manusia yang dijelaskan oleh KH. Moh. Ali Hanafiah Akbar, seorang praktisi ilmu tasawuf. Beliau menjelaskan dalam ilmu tasawuf, nafsu manusia dibagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu:

1. *Nafsu Ammarah* (Nafsu yang Memerintahkan kejahatan): Nafsu ini cenderung mendorong manusia untuk melakukan perbuatan yang buruk dan melanggar syariat.
2. *Nafsu Lawwamah* (Nafsu yang Mengecam): Nafsu ini mulai menyadari kesalahan dan dosa, serta merasa bersalah dan ingin bertaubat.
3. *Nafsu Mulhamah* (Nafsu yang Terilhami): Nafsu ini telah menerima ilham dan bimbingan dari Allah, sehingga cenderung melakukan perbuatan yang baik dan saleh.
4. *Nafsu Mutmainnah* (Nafsu yang Tenang): Nafsu ini telah mencapai tingkat kesadaran spiritual yang tinggi, sehingga merasa tenang dan damai dalam menjalankan hidup.
5. *Nafsu Radiyah* (Nafsu yang Ridha): Nafsu ini telah mencapai tingkat kesadaran spiritual yang lebih tinggi, sehingga merasa ridha dengan apa yang terjadi dalam hidup.
6. *Nafsu Mardiyah* (Nafsu yang Diridhai): Nafsu ini telah mencapai tingkat kesadaran spiritual yang paling tinggi, sehingga diridhai oleh Allah dan merasa bahagia dalam menjalankan hidup.

Tingkatan nafsu ini menunjukkan perjalanan spiritual manusia dari tingkat yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Dengan memahami dan meningkatkan kesadaran spiritual, manusia dapat mencapai tingkat nafsu yang lebih tinggi dan lebih dekat dengan Allah.

Semoga artikel singkat ini dapat menambah keimanan kita pada Allah SWT. Amiin.
Untuk menonton videonya silahkan kunjungi:

#tasawuf #tingkatannafsu #nafsumutmainnah
READ MORE - Tingkatan Nafsu Pada Manusia