Tuesday, July 15, 2014

Sholat Sunnat Lailatul Qodar

Assalamu'alaikum wr. wb

Shalat Lailatul Qodar adalah shalat sunnat karena mengharapkan karunia kemulyaan malam lailatul qodar.

Shalat ini dilaksanakan sepanjang malam ba'da shalat tarawih pada tanggal 21 sampai dengan malam terakhir bulan ramadhan sebanyak 4 raka'at 2x salam.

Niatnya adalah:
ushollii sunnatal lailatil qodri rok'ataini lillaahhi ta'aalaa.

"Aku berniat melaksanakan sholat lailatul qodar karena Allah Ta'ala".

Dan pada setiap raka'at ba'da fatihah membaca surat At-Takatsur 1x dan Al-Ikhlas 3x. 


Setelah selesai salam pada raka'at akhir memperbanyak wirid:

alloohumma innaka 'afuwwung kariim, tuhibbul 'afwa fa'fu 'annii.

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Mulia, Engkau suka mengampuni, maka ampunilah aku".


Semoga bermanfaat. Wassalam
READ MORE - Sholat Sunnat Lailatul Qodar

Friday, July 4, 2014

Tips Sukses Beribadah Ramadhan

Berikut dibawah ini beberapa tips sukses ala ikhwan Thoriqot Qodiriyyah Naqsabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya.
Tips sukses beribadah Ramadhan:

1. Agar puasa bermanfaat bagi kesehatan, lakukanlah praktek puasa Rasulullah sebagai berikut : 1) mengakhirkan makan sahur dan tidak berlebihan, 2) menyegerakan berbuka apabila datang waktu maghrib, sunnah dengan makanan yang manis (biasanya Rasulullah berbuka dengan 3 buah kurma) dan makan tidak berlebihan agar waktu melaksanakan sholat maghrib dzikir, khotaman, dan sholat-sholat sunnat lain tidak malas karena terlalu kenyang.

2. Melakukan qiyamu Ramadhan (tarawih) setelah melakukan sholat Isya dan sholat sunnat. Dan dilanjutkan dengan khotaman. 

3. Usahakan puasa kita termasuk kategori puasa khusus, yaitu di samping menahan lapar, haus dan mencegah segala hal yang membatalkan puasa. Puasa kita akan menjadi ibadah sangat istimewa jika disertai dengan dzikir. Dengan dzikir otomatis dapat mencegah dari hal-hal yang dapat merusak pahala puasa, yaitu marah, berkata ngelantur, bohong, menggunjing, sumpah palsu, mengadudomba (provokasi), memfitnah, bermusuhan dan melihat dengan syahwat serta melihat sesuatu yang mendorong lupa kepada Allah, menjaga telinga dari mendengar yang tidak baik, dan menjaga seluruh anggota badan dari perbuatan dosa.  

4. Melakukan Riyadhoh sesuai anjuran ustad. Di samping mendapat keutamaan ibadah, Riyadhoh (qiyamul lail) ini pun sangat bermanfaat bagi kesehatan, karena sebelum sholat, kita melaksanakan mandi taubat yang sering dilakukan oleh Rosulullah. Untuk cara Riyadhoh lihat posting sebelumnya Riyadhoh selama 40 hari.

5. Memperbanyak tadarus Al-Qur'an, i'tikaf dan dzikir. Membaca qur'an satu juz satu hari. Satu juz sekitar 10 lembar. 10 lembar dibagi 5 waktu sholat (Shubuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya') menjadi 2 lembar. Artinya jika kita membaca 2 lembar aja setelah kita melakukan sholat fardhu dan dzikir kita akan dapat menyelesaikan 1 juz setiap harinya. Jadi 30 hari atau sebulan seluruh Qur'an dapat diselesaikan. Rosulullah mengkhatamkan qur'an setiap bulannya.

6. Memperbanyak sedekah, terlebih-lebih memberi makanan untuk orang yang berbuka puasa. Baca juga postingan Ide-Ide Sedekah di bulan Ramadhan.

7. Upayakan kita memperoleh keutamaan lailatul qadr, yaitu beribadah pada satu malam di bulan Ramadhan yang persisnya dirahasiakan. Dalam berbagai hadits, dijelaskan, kemungkinan datangnya lailatul qadr pada malam-malam ganjil di 10 malam akhir Ramadalan. Jadi ajak seluruh keluarga untuk beribadah di masjid.

8. Perbanyak amal saleh, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dalam hubungan dengan sesama manusia, karena pahalanya dilipatgandakan. 

9. Bayar zakat fitrah sebelum shalat idul fitri.

10. Manfaatkan idul fitri untuk bersilaturahim (Halal bi halal) dan saling memaafkan, sehingga kita bersih dari dosa dalam hubungan antar sesama manusia. Insya Allah dengan puasa dan tarawih, dosa dalam hubungan dengan Allah telah diampuni. Maka pada idul fitri, kita bagaikan bayi yang baru dilahirkan, tidak ada dosa sedikitpun. Dan mendapatkan predikat orang yang bertaqwa. Amin.

Semoga bermanfaat

Sumber:
Tausiyah KH. Moh. Ali Hanafiah Akbar
READ MORE - Tips Sukses Beribadah Ramadhan

Rajin Ibadah Tapi Masuk Neraka


Ini satu kisah yang patut kita renungkan baik-baik. Kebanyakan kaum muslimin mengira bahwasanya yang menentukan seseorang itu masuk ke dalam surga ataukah tidak adalah ditentukan semata-mata dari amalannya. Artinya, apabila amalannya baik dan benar maka pastilah dia akan masuk surga. 

Anggapan seperti ini sebenarnya tidaklah bisa disalahkan secara mutlak, dan tidak pula bisa dianggap benar secara mutlak pula. Sebabnya adalah karena adanya firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menerangkan bahwa amalan shalih merupakan penyebab masuknya kaum mukminin ke dalam surga. Di antaranya adalah firman Allah ta’ala:

وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” [QS Al A’raf: 43]

Allah juga berfirman:
كَذَلِكَ يَجْزِي اللَّهُ الْمُتَّقِينَ (31) الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salamun ‘alaikum, masuklah kalian ke dalam surga disebabkan apa yang telah kalian kerjakan.” [QS An Nahl: 31-32] 

Namun ada sebuah hadits shahih yang menerangkan bahwa amalan seseorang itu tidaklah bisa memasukkan dirinya ke dalam surga. Hadits tersebut datang dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ

“Amalan seseorang itu tidak akan bisa memasukkannya ke dalam surga.” Para sahabat bertanya: “Tidak juga anda, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab: “Tidak pula aku, akan tetapi Allah telah melimpahkan keutamaan dan rahmat-Nya kepadaku.” [HR Al Bukhari (5673) dan Muslim (2816)]

Hadits di atas menerangkan bahwa amalan seseorang itu bukanlah penyebab bagi seseorang untuk masuk ke dalam surga. Bahkan termasuk amalan Rasulullah صلى الله وسلم sendiri bukanlah itu yang menyebabkan beliau masuk surga. Hanya saja Allah telah menjamin beliau pasti akan masuk surga berkat kemurahan dan rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah bersabda:''Tidaklah amal perbuatan itu menyelamatkan salah seorang diantara kalian'''.Mereka bertanya''walaupun pada engkau,wahai Rasul?''Beliau menjawab''walaupun aku,tapi aku diberi limpahan oleh Allah limpahan rahmatNya.Maka dari itu berbuat baiklah,dekatkan diri kalian kepadaNya,beribadahlah diwaktu 
siang dan sebagian diwaktu malam.Sederhanakanlah( dalam ibadah),jangan terlalu banyak,dan juga jangan terlalu sedikit,supaya kalian mencapai ridhaNya.(hadits shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Ahmad).

Meski kita rajin beribadah sehingga orang-orang mengira kita ahli surga, tapi jika akhlak kita buruk dan suka menyakiti sesama niscaya kita akan masuk neraka. Hablum minallah (hubungan dengan Allah) harus sejalan dengan hablum minannas (hubungan dengan manusia). Ini kisahnya:
Alkisah.. Suatu hari, seperti biasa Rasululloh saw dan para sahabat berkumpul di masjid. Di depan masjid itu ada sebuah rumah, di rumah itu tinggal seorang wanita yang dikenal sebagai ahli ibadah di lingkungan tempat tinggalnya, sebut saja `si fulanah`. Saat si fulanah keluar rumah hendak melaksanakan sholat berjama`ah di masjid, para sahabat memuji-mujinya dan ada yang berkata, `tentulah si fulanah itu ahli surga, karena dia senantiasa puasa di siang hari dan sholat di malam hari.` Kemudian Rasululloh saw beranjak dari tempat duduknya dan menjawab,

`TIDAK! Hiya fin naar.. Hiya fin naar.. Dia ahli neraka.. Dia ahli neraka..`

Para sahabat bertanya-tanya, `kenapa?`.

Karena mulutnya sering menyakiti orang lain. Dia suka mengganggu tetangganya dengan ucapannya. Seluruh amal ibadahnya hancur, karena dia punya akhlak yang buruk. Dia menjadi ahli neraka karena ibadahnya tidak mampu menjadi motivasi baginya untuk berakhlak yang baik.

`Man kana yu`minu billahi wal yaumil akhir fal yakul khoiron aw liyashmut,` barangsiapa beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.` (HR. Bukhori no. 6018)

Hadits lain yg serupa: “Dari Abdullah bin Amr bin al-’Ash ra dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Muslim ialah orang yang semua orang Islam lainnya selamat dari kejahatan lidah -ucapan- dan kejahatan tangannya -perbuatannya-. ” (Muttafaq ‘alaih)
READ MORE - Rajin Ibadah Tapi Masuk Neraka

Wanita Pertama Penghuni Surga

Gambar Ilustrasi

Wanita Pertama Penghuni Surga bukanlah putri seorang nabi, atau istri para sahabat melainkan Dialah Mutiah. Mengapa bisa demikian? Siti Fatimah Putri Rasul pun sangat penasaran dibuatnya. Siapakah Mutiah ini?? Apa kehebatannya sampai dia diberikan penghargaan yang sangat mulia itu?? Ikuti kisahnya dibawah ini.

Kisahnya.
Suatu hari putri Nabi SAW. Fatimah Az Zahra ra. bertanya kepada Rasulullah SAW., siapakah wanita pertama yang memasuki surga setelahUmmahatul Mukminin setelah istri-istri Nabi SAW.? Rasulullah bersabda: Dialah Mutiah.

Berhari-hari Fatimah Az Zahra berkeliling kota Madinah untuk mencari tahu keberadaan siapa Mutiah itu dan dimana wanita yang dikatakan oleh Nabi SAW. itu tinggal. Alhamdulillah dari informasi yang didapatkannya, Fatimah mengetahui keberadaan dan tempat tinggal Mutiah di pinggiran kota Madinah.

Atas ijin suaminya Ali bin Abi Thalib, maka Fatimah Az Zahra dengan mengajak Hasan putranya untuk bersilaturahmi ke rumah Mutiah pada pagi hari. Sesampainya di rumah Mutiah, maka Fatimah yang sudah tidak sabar segera mengetuk pintu rumah Mutiah dengan mengucapkan salam.

“Assalaamu’alaikum ya ahlil bait.” Dari dalam rumah terdengar jawaban seorang wanita, “Wa’alaikassalaam … siapakah diluar?” lanjutnya bertanya. Fatimah menjawab, “Saya Fatimah putri Muhammad SAW.” Mutiah menjawab, “Alhamdulillah, hari ini rumahku dikunjungi putri Nabi junjungan alam semesta.”

Segera Mutiah membuka sedikit pintu rumahnya, dan ketika Mutiah melihat Fatimah membawa putra laki-lakinya yang masih kecil (dalam riwayat masih berumur 5 tahun). Maka Mutiah kembali menutup pintu rumahnya kembali, terkagetlah Fatimah dan bertanyalah putri Nabi SAW kepada Mutiah dari balik pintu.

“Ada apa gerangan wahai Mutiah? Kenapa engkau menutup kembali pintu rumahmu? Apakah engkau tidak mengijinkan aku untuk mengunjungi dan bersilaturahim kepadamu?”

Mutiah dari balik pintu rumahnya menjawab, “Wahai putri Nabi, bukannya aku tidak mau menerimamu di rumahku. Akan tetapi keberadaanmu bersama dengan anak laki-lakimu Hasan, yang menurut ajaran Rasulullah tidak membolehkan seorang istri untuk memasukkan laki-laki ke rumahnya ketika suaminya tidak ada di rumah dan tanpa ijin suaminya. Walaupun anakmu Hasan masih kecil, tetapi aku belum meminta ijin kepada suamiku dan suamiku saat ini tidak berada dirumah. Kembalilah besok biar aku nanti meminta ijin terlebih dahulu kepada suamiku.”

Tersentaklah Fatimah Az-Zahra mendengarkan kata-kata wanita mulia ini, bahwa argumentasi Mutiah memang benar seperti yang diajarkan ayahnya Rasulullah SAW. Akhirnya Fatimah pulang dengan hati yang bergejolak dan merencanakan akan kembali besok hari.

Pada hari berikutnya ketika Fatimah akan berangkat ke rumah Mutiah, Husein adik Hasan rewel tidak mau ditinggal dan merengek minta ikut ibunya. Hingga akhirnya Fatimah mengajak kedua putranya Hasan dan Husein. Dengan berpikir bahwa Mutiah sudah meminta ijin kepada suaminya atas keberadaannya dengan membawa Hasan, sehingga kalau dia membawa Husein sekaligus maka hal itu sudah termasuk ijin yang diberikan kepada Hasan karena Husein berusia lebih kecil dan adik dari Hasan.

Namun ketika berada didepan rumah Mutiah, maka kejadian pada hari pertama terulang kembali. Mutiah mengatakan bahwa ijin yang diberikan oleh suaminya hanya untuk Hasan, akan tetapi untuk Husein Mutiah belum meminta ijin suaminya.

Semakin galau hati Fatimah, memikirkan begitu mulianya wanita ini menjunjung tinggi ajaran Rasulullah SAW. dan begitu tunduk dan tawaddu’ kepada suaminya.

Pada hari yang ketiga, kembali Fatimah bersama kedua anaknya datang ke rumah Mutiah pada sore hari. Namun kembali Fatimah mendapati kejadian yang mencengangkan, dia terkagum. Mutiah didapati sedang berdandan sangat rapi dan menggunakan pakaian terbaik yang dipunyai dengan bau yang harum, sehingga Mutiah terlihat sangat mempesona.

Dalam kondisi seperti itu, Mutiah mengatakan kepada Fatimah bahwa suaminya sebentar lagi akan pulang kerja dan dia sedang bersiap-siap menyambutnya. Subhanallah, kita merindukan istri yang demikian. Yaitu ketika suami pulang kerja dia berusaha menyambutnya dengan kondisi sudah mandi, sudah berdandan, sudah memakai pakaian yang bagus, dan siap menyambut kedatangan suami di halaman rumah dengan senyuman terindah penuh kasih dan sayang. Ya Allah, jadikanlah istri-istri kami seperti Mutiah.

Akhirnya Fatimah pulang kembali dengan kekaguman yang tak terperi kepada Mutiah. Dan pada hari yang keempat, Fatimah datang kembali ke rumah Mutiah lebih sore dan berharap bahwa suaminya sudah berada di rumah atau sudah pulang dari kerja. Dan Alhamdulillah memang pada saat Fatimah datang, suami Mutiah baru saja sampai di rumah pulang dari kerja.

Fatimah dan kedua anaknya Hasan dan Husein dipersilahkan masuk oleh Mutiah dan suaminya ke rumahnya. Fatimah melihat sebuah pemandangan yang jauh lebih mengesankan dibanding dengan yang dihadapinya sejak hari pertama. Mutiah sudah menyiapkan baju ganti yang bersih untuk suaminya, sambil menuntun suaminya ke kamar mandi. Mutiah terlihat mulai melepaskan baju suaminya, dan mereka berdua hilang masuk ke bilik kamar mandi. Dan yang dilakukan oleh Mutiah adalah memandikan suaminya. Subhanallah… Tsumma Subhanallah.

Selesai memandikan suaminya, Fatimah menyaksikan Mutiah menuntun suaminya menuju ke tempat makan. Dan suaminya sudah disiapkan makanan dan minuman yang dimasaknya seharian. Sebelum memakan makanan yang sudah disiapkan, Mutiah masuk ke dalam rumah dan keluar dengan membawa cambuk sepanjang 2 meter dan diberikan kepada suaminya dengan mengatakan.

“Wahai suamiku, seharian aku telah membuat makanan dan minuman yang ada didepanmu. Sekiranya engkau tidak menyukai dan tidak berkenan atas masakan yang aku buat, maka cambuklah diriku.”

Tanpa bertanya apa-apa, Fatimah sudah memahami apa yang dikatakan oleh ayahnya Rasulullah SAW. tentang wanita pertama penghuni surga setelah para istri Nabi yaitu Mutiah.

Fatimah pulang menangis haru dan bahagia karena sudah mendapatkan jawaban bagaimana istri yang sholihah. Seperti yang ada pada diri Mutiah, yang mendapatkan kehormatan sebagai wanita yang paling dahulu memasuki surga Allah SWT.
READ MORE - Wanita Pertama Penghuni Surga