Friday, April 25, 2014

Ketika Aku Jatuh Cinta (Belajar Ta'aruf)

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang."

Kali ini aku ingin berbagi sebuah pengalaman baru bagi saya yang miskin ilmu ini. Coretan ini dimulai ketika aku jatuh cinta pada seorang gadis yang taat beribadah. Aku mencintainya karena kecintaannya pada Allah.

Rasulullah SAW bersabda, “Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan jika saya serius ingin mengenal dia, harus mengenalnya dengan cara ta'aruf. Ya!!! Ta'aruf (perkenalan secara syar'i) yang akan mengantarkan dua orang insan kepada mahligai terindah dalam kehidupan manusia yaitu pernikahan. Karena saya masih belum terlalu mengetahui cara-cara ta'aruf yang baik, kiat-kiat ta’aruf Islami yang benar agar nantinya tercipta rumah tangga sakinah mawaddah warohmah. Jika dibawah ini yang dinamakan ta'aruf tersebut itu karena orang-orang hebat yang ada disekitarku dan terus mengajariku dan membimbingku. Tapi jika ini bukan ta'aruf, saya pribadi mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kebodohan saya, buat seluruh umat muslim khususnya pembaca blog ini.

1. Memohon Petunjuk kepada Allah
Ketika seseorang menarik hatiku dan aku menginginkan dia untuk menjadi istriku, pertama-tama yang akan aku lakukan adalah memohon petunjuk kepada Allah dengan istikharoh agar Allah SWT memberikan jawaban yang terbaik. Ustadz selalu mengajari untuk istikharah sebelum tidur dan setelah sholat isroq di pagi hari. Agar semua aktivitas kita mendapat petunjuk oleh Allah.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui" (Qs. Al-Baqarah: 216)

Ustadz berkata, dalam melakukan istikharoh ini, jangan ada kecenderungan dulu pada pilihan kita. Tapi netralkan dulu pilihan, jangan berharap dan ikhlaskanlah semua hasilnya pada Allah SWT. Luruskan niat kita, bahwa kita menikah karena Allah dan ingin mendapat ridhoNya sehingga benar-benar terbentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Seseorang biasanya mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang diniatkannya.

2. Konsultasi dengan Ustadz, Orang tua, atau Wali kita
Setelah aku melakukan istikharoh selama beberapa hari dan adanya kemantapan hati, maka aku mulai memberanikan diri untuk berkonsultasi pada Ustadz. Bagiku seorang guru adalah orang tua dan wali Allah. "Dekatlah dengan orang-orang yang dekat denganKu" 

"Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya dari-Ku. Tidak ada yang paling Aku cintai dari seorang hamba kecuali beribadah kepada-Ku dengan sesuatu yang telah Aku wajibkan kepadanya. Adapun jika hamba-Ku selalu melaksanakan perbuatan sunah, niscaya Aku akan mencintanya. Jika Aku telah mencintainya, maka (Aku) menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya, (Aku) menjadi penglihatan yang dia melihat dengannya, menjadi tangan yang dia memukul dengannya, menjadi kaki yang dia berjalan dengannya. Jika dia memohon kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan dan jika dia minta ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni, dan jika dia minta perlindungan kepada-Ku, niscaya akan Aku lindungi." (Hadits Qudsi) 

3. Menentukan waktu yang tepat untuk silaturahmi ke rumah akhwat 
Biasanya setelah mendapat restu dari orang tua dan ustadz, saya akan memberanikan diri untuk berkunjung ke rumah akhwat untuk mengungkapkan cinta saya kepada orang tua akhwat dan akhwat sendiri. Saya akan mengatakan kepada keluarga akhwat akan datang kembali bersama orang tua saya jika diijinkan untuk menindaklanjuti niat baik saya. Mungkin saya tidak datang seorang diri, untuk menghindarkan fitnah dan untuk membedakan dengan orang lain yang terkenal di masyarakat dengan istilah ’ngapel’ (pacaran). Dan saya akan memilih waktu yang tepat untuk bersilaturahmi.

Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah dia mengatakan cinta kepadanya.” (Abu Dawud dan Tirmidzi)

Anas r.a. mengatakan bahwa seseorang berada di sisi Rasulullah saw., lalu salah seorang sahabat melewatinya. Orang yang berada di sisi Rasulullah tersebut mengatakan, “Aku mencintai dia, ya Rasulullah.” Lalu Nabi bersabda, “Apakah kamu sudah memberitahukan dia?” Orang itu menjawab, “Belum.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Beritahukan kepadanya.” Lalu orang tersebut memberitahukannya dan berkata, “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.” Kemudian orang yang dicintai itu menjawab, “Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.” (Abu Dawud)

4. Menentukan waktu ta’aruf dengan keluarga akhwat
Setelah mendapat sambutan yang baik oleh keluarga akhwat, saya pun segera memutuskan untuk berkenalan dengan keluarga besarnya bersama keluarga saya juga atau wali saya. Ini memang sengaja harus selalu saya komunikasikan dengan dengan orang yang berpengalaman khususnya keluarga saya karena bagi saya menikah adalah sesuatu yang sakral dan kalau bisa harus dilakukan sekali seumur hidup. Jadi siapapun jodoh saya nanti, itulah pilihan terbaik saya. Dan waktu yang tepat juga sangat dibutuhkan dalam proses ini.  

5. Keluarga saya akan mengundang silaturahim akhwat ke rumah saya.
Dalam hal menikah tanpa pacaran, adalah wajar jika orang tua saya ingin mengenal calon menantunya (akhwat). Maka sah-sah saja, jika orang tua saya ingin berkenalan dengan akhwat (calon menantunya). Sebaiknya ketika datang ke rumah saya nanti, akhwat datang bersama keluarganya, untuk menghindari terjadinya fitnah. Dalam hal ini bisa saja akhwat ditemani muhrimnya, Ustadzahnya ataupun teman pengajiannya.

6.Menentukan Waktu Khitbah
Setelah terjadinya silaturahim kedua belah pihak, dan sudah ada kecocokan visi dan misi dari kita berdua (saya dan akhwat) juga dengan keluarga besarnya, maka segera menentukan kapan waktu untuk mengkhitbah (meminang) akhwat. Semoga jarak waktu antara ta’aruf dengan khitbah nantinya, tidak terlalu lama, karena takut menimbulkan fitnah.

7. Khitbah (Meminang)
Setelah terjadinya silaturahim kedua belah pihak, dan sudah ada kecocokan visi dan misi dari saya dan akhwat juga dengan keluarga besarnya, maka kita akan segeralah menentukan waktu untuk mengkhitbah akhwat. Dan proses khitbah harus sesuai dengan syar'i dan budaya setempat. Semoga dengan menjalankan kiat-kiat diatas pernikahan saya nanti di ridhoi oleh Allah dan dimudahkan segala urusannya. Dan semoga terbentuk rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warohmah, istiqomah, khusnul khotimah…yang menjadi dambaan setiap keluarga muslim baik di dunia maupun di akhirat. Amin

Semoga Bermanfaat
READ MORE - Ketika Aku Jatuh Cinta (Belajar Ta'aruf)

Thursday, April 3, 2014

Pepatah Arab (Mahfudzat)

1. Man jadda wajada
(Siapa bersungguh-sungguh , dia akan berhasil)

2. Man shobaro zhofira
(Siapa bersabar, dia akan beruntung)

3. Man sara ‘ala ad-darbi washala
(Siapa berjalan pada jalan-NYA, dia akan sampai)

4. Man qalla shidquhu qalla shodiquhu
(Siapa yang sedikit kejujurannya, sedikit pula temannya)

5. Jalis ahla ash-shidqi wa al-wafa’i
(Pergaulilah orang jujur dan menepati janji)

6. Mawaddatu ash-shodiqi tadzharu waqta adh-dhiqi
(Kecintaan seorang teman itu akan terlihat pada saat kesulitan)

7. Wama al-lladzdzatu illa ba’da at-ta’abi
(Tidak ada kenikmatan kecuali setelah bersusah payah)

8. Ash-shobru yu’inu ‘ala kulli ‘amalin
(Kesabaran itu membantu segala pekerjaan)

9. Jarrib walahidz takun ‘arifan
(Coba dan perhatikan, niscaya engkau akan paham)

10. Uthlubu al-’ilma min al-mahdi ila al-llahdi
(Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang kubur)

11. Baidhatu al-yaumi khairun min dajajati al-ghodd
(Telur hari ini lebih baik dari ayam hari esok)

12. Al-waqtu atsmanu mina adz-dzahabi
(Waktu itu lebih berharga daripada emas)

13. Al-’aqlu as-salimu fi al-jismi as-salimi
(Akal yang sehat terdapat pada badan yang sehat)

14. Khoiru jalisin fi az-zamani kitabun
(Sebaik-baik teman duduk di setiap waktu adalah buku)

15. Man yazra’ yahshud
(Siapa yang menanam, dia akan memetik/memanen)

16. Khoiru al-ashabi man yadulluka ‘ala al-khoiri
(Sebaik-baik teman adalah yang menunjukkanmu pada kebaikan)

17. Laula al-’ilma lakana an-nasu ka al-baha’imi
(Seandainya tiada berilmu, manusia itu seperti binatang)

18. Al-’ilmu fi as-shighori ka an-naqsyi ‘ala al-hajari
(Ilmu pengetahuan di waktu kecil itu bagaikan ukiran di atas batu)
19. Lan tarji’a al-ayyamu al-lati madhot
(Tidak akan kembali hari-hari yang lalu)

20. Ta’allaman shoghiran wa’mal bihi kabiron
(Belajarlah di waktu kecil dan amalkanlah di waktu besar)

21. Al-’ilmu bila ‘amalin ka asy-syajari bila tsamarin
(Ilmu tiada amalan bagaikan pohon tidak berbuah)

22. Al-ittihadu asasu an-najahi
(Persatuan adalah pangkal keberhasilan)

23. La tahtaqir miskinan wa kun lahu mu’inan
(Jangan engkau menghina orang miskin bahkan jadilah penolong baginya)

24. Asy-syarofu bi al-adabi la bi an-nasabi
(Kemuliaan itu dengan adab kesopanan , bukan dengan keturunan)

25. Salamatu al-insani fu’ hifdzi al-lisani
(Keselamatan manusia itu dalam menjaga lisannya)

26. Adabu al-mar’i khorun min dzahabihi
(Adab seseorang itu lebih berharga daripada emasnya)

27. Su’u al-khuluqi yu’di
(Kerusakan budi pekerti/akhlak itu menular)

28. Afatu al-’ilmi an-nisyan
(Bencana ilmu itu adalah lupa)

29. Idza shodaqa al-’azmu wadhoha as-sabilu
(Jika benar kemauannya niscaya terbukalah jalannya)

30. La tahtaqir man dunaka fa likulli syai’in maziyyatun
(Jangan menghina orang yang lebih rendah daripadamu karena setiap orang mempunyai kelebihan)

31. Ashlih nafsaka yashluh laka an-nasu
(Perbaikilah dirimu sendiri niscaya orang lain akan baik padamu)

32. Fakkir qobla an’ta’zima
(Berpikirlah dahulu sebelum kamu merencanakan/berkemauan)

33. Man ‘arafa buida as-safari ista’adda
(Siapa yang tahu jauhnya perjalanan, dia akan bersiap-siap)

34. Man hafaro khufrotan waqo’a fiha
(Siapa yang menggali lubang, dia yang akan terperosok ke dalamnya)

35. ‘Aduwwun ‘aqilun khoirun min shodiqin jahilin
(Musuh yang pandai lebih baik daripada teman yang bodoh)

36. Man katsuro ihsanuhu katsuro ikhwanuhu
(Siapa yang banyak perbuatan baiknya, banyak pulalah temannya)
37. Ijhad wala taksal wala taku ghofilan fanadamatu al-’uqba liman yatakassal
(Bersungguh-sungguhlah dan jangan bermalas-malasan dan jangan pula lengah karena penyesalan akibat itu bagi orang yang bermalas-malasan)

38. La tu’akhkhir ‘amalaka ila al-ghoddi ma taqdiru an ta’malahu al-yauma
(Janganlah mengakhirkan pekerjaanmu hingga esok hari yang kamu bisa mengerjakannya hari ini)

39. Utruk asy-syarro yatrukka
(Tinggalkanlah perbuatan jelek niscaya dia akan meninggalkanmu)

40. Khoiru an-nasi ahsanuhum khuluqan wa anfa’uhum linnas
(Sebaik-baik manusia itu adalah yang lebih baik budi pekertinya dan yang lebih bermanfaat bagi manusia)

41. Fi at-ta’anni as-salamatu wa fi al-’ajalati an-nadamatu
(Di dalam kehati-hatian adanya keselamatan, dan di dalam ketergesaan adanya penyesalan)

42. Tsamrotu at-tafriti an-nadamatu wa tsamrotu al-hazmi as-salamatu
(Buah sembrono atau lengah itu penyesalan dan buah cermat itu adalah keselamatan)

43. Ar-rifqu bi adh-dho’ifi -min khuluqi asy-syarifi
(Berlemah-lembut kepada orang yang lemah itu adalah suatu perangai orang yang mulia)

44. Fajaza’u as-sayyiatin sayyiatun mitsluha
(Maka pahala/imbalan suatu kejahatan itu adalah kejahatan yang sama)

45. Tarku al-jawabi ‘ala al-jahili jawabun
(Tidak menjawab terhadap orang yang bodoh itu adalah jawabannya)

46. Man ‘adzuba lisannuhu katsuro ikhwanuhu
(Siapa yang manis tutur katanya, banyaklah temannya)

47. Idza tamma al-’aqlu qolla al-kalamu
(Apabila akal seseorang telah sempurna maka sedikitlah bicaranya)

48. Man tholaba akhon bila ‘aibin baqiya bila akhin
(Siapa yang mencari teman yang tidak bercela maka dia tidak akan mempunyai teman)

49. Qul al-haqqo walau kana murron
(Katakanlah yang benar itu walaupun pahit)

50. Khoiru malika ma nafa’aka
(Sebaik-baik hartamu adalah yang bermanfaat bagimu)


READ MORE - Pepatah Arab (Mahfudzat)